Gus Mul Dalam Bukunya Jomblo Hafal Pancasila

gus-mul-beberkan-derita-jomblo-datang-ke-pernikahan-perih-rev-1

Jadi jomblo banyak deritanya. Salah satu yang paling perih adalah ketika mereka diundang ke pesta pernikahan kawan seangkatan. Butuh nyali besar untuk datang.

Hal itulah yang ditulis Agus Mulyadi alias Gus Mul dalam bukunya Jomblo Hafal Pancasila. Buku itu diterbitkan B-First (PT Buku Bentang) Juni 2014 lalu.

Nah ini petikan curhat Gus Mul :

Salah satu yang paling sulit diterima oleh seorang bujangan adalah undangan resepsi pernikahan dari kawan seangkatan. Semua tentu sudah tahu bahwa bagi bujangan, undangan pernikahan sudah seperti kartu kuning dalam pertandingan sepak bola. Sebuah peringatan yang keras dan sangat nyata.

Sangatlah berat bagi seorang bujangan untuk datang ke hajatan pernikahan seorang kawan. Masalah utamanya tentu bukan soal amplop, melainkan pertanyaan-pertanyaan keki dan mbrondong bak intel dari kawan-kawan lain yang hadir. “Kapan kamu mau nyusul dia?”

Kalau yang sudah punya pacar, sih, jawabnya enak. “Ya nunggu kalau adik cantik ini sudah siap!” (Sambil melirik ke arah pacarnya) atau Insya Allah tahun depan! Pokoknya sudah ada yang bisa diharapkan untuk dijadikan pendamping nikah.

Lha, kalau bujangan yang masih bersegel rapat seperti saya ini, kan, susah menjawabnya. Pacar belum ada, kok, sudah ditanya kapan nikah. Ini, kan, sama seperti anak yang belum selesai Iqra, tapi sudah ditanya kapan khatam Al-Qur’an. Masih terlalu jauh untuk ditanyakan. Maka ujung-ujungnya, jawaban yang paling aplikatif adalah “Ya doakan saja biar segera dapat jodoh!”

Kalau saja bukan karena alasan persahabatan, rikuh, maupun pakewuh. Mungkin saya dan bujangan-bujangan lainnya ndak bakal mau datang ke acara hajatan nikah kawan-kawan seangkatan.

Yang sudah punya pacar, sih, enak. Datang ke resepsi nikahan berdua memakai baju dress batik couple, tampak seperti yang mau nikah saja. Lalu, kalau hajatan sudah selesai bisa foto bersama kedua mempelai dengan posisi mendampingi pengantin. Pokoknya serasilah.

Kalau yang bujangan, mau foto bareng mempelai pun rasanya sungkan, malah lebih tampak seperti obat nyamuk. Jujur lho, ya. Bisa datang ke hajatan kawan bersama pacar dengan menggenakan dress batik couple adalah salah satu nikmat duniawi yang belum pernah saya rasakan sampai sekarang (semoga dalam waktu dekat ini bisa terlaksana).

Itulah realitasnya. Resepsi pernikahan memang tak pernah ramah dengan kaum bujangan dan itu sudah menjadi hukum alam. Bagi bujangan, resepsi pernikahan kawan adalah ke-nelangsa-an yang semakin menambah beban berat kehidupan dalam urusan asmara.

Lebih nelangsa lagi kalau ternyata yang menikah adalah kawan sendiri yang selama ini kita taksir dan kita mendapat undangannya. Kalau ini terjadi ndilalah terjadi pada diri anda, saya sarankan anda untuk datang ke resepsi pernikahannya dengan membawa MP3 player, sambil memutar tembang klasik “Air Mata di Persandinganmu,” syahdu…

“Alangkah hancur dan berkecainya hatiku
Saat ku mendengar berita perkahwinanmu
Gemetar hatiku diam tak terkata
Menahan sebaknya di dada
Tahukah engkau sesungguhnya hati ini
Masih lagi menyayangi dan merindumu…”

Tragis ya. Nah, dalam buku Jomblo Hafal Pancasila, masih banyak hal lucu yang ditulis Agus. Bahasanya yang ringan mengalir membuat enak dibaca. Tak rugi membayar Rp 54.000. Dijamin!

Iklan

Penulis: kangjum

My name Jumadi arya pratama I am from Indonesia Greetings for all the companion piece of paper wherever located

3 thoughts on “Gus Mul Dalam Bukunya Jomblo Hafal Pancasila”

silahkan komentar disini :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s